UNIVERSITAS
GUNADARMA
FAKULTAS
PSIKOLOGI
PENG.KREATIVITAS
& KEBAKATAN (KREATIVITAS)
Di Susun Oleh :
Anita Rachman
(11514325)
Shelvy Septiarini
(1A514221)
Vingki Oktanurcahyani (1C514070)
Wahyu Manila
(1C514851)
Kelas
: 1PA16
Pembimbing :
Tri Maryani
TAHUN AJARAN
2014/2015
A.Teori –Teori Pendorong kreativitas
A1.Motivasi intrinsik
Dorongan untuk
mewujudkan potensinya, mewujudkan diri, berkembangan dan menjadi matang,
menggungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas seseorang.
Merupakan
motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan baru
dengan lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya.
Ada dalam tiap
individu, tapi membutuhkan kondisi yang tepat untuk diekspresikan.
A2.Kondisi
Eksternal yang mendorong kreativitas
Kretaivitas
memang tidak dapat dipaksakan, tetapi harus dimungkinkan untuk tumbuh, bibit
unggul memerlukan kokdisi yang memupuk dan memungkinkan bibit itu mengembangkan
sendiri potensinya.
Bagaimana cara
menciptakan lingkungan eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri anak (internal)
untuk mengembangkan kreativitasnya?
Menurut
pengalaman Carl Rogers dalam psikoterapi adalah dengan menciptakan kondisi
keamanan dan kebebasan psikologis.
Teori Produk
Kreatifitas
Pada pribadi
yang kreatif, bila memiliki kondisi pribadi dan lingkungan yang memberi peluang
bersibuk diri secara kreatif (proses), maka dapat diprediksikan bahwa produk
kreatifnya akan muncul.
Cropley (1994)
menunjukkan hubungan antara tahap-tahap proses kreatif dari Wallas (persiapan,
inkubasi, iluminasi, verifikasi) dan produk yang psikologis yang berinteraksi :
hasil berpikir konvergen , memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, jika
dihadapkan dengan situasi yang menuntut tindakan yaitu pemecahan masalah individu menggabungkan unsur-unsur mental
sampai timbul “ konfigurasi”. Konfigurasi dapat berupa gagasan, model, tindakan
cara menyusun kata, melodi atau bentuk.
Pemikir divergen
(kreatif) mampu menggabungkan unsur-unsur mental dengan cara-cara yang tidak
lazim atau tidak diduga. Konstruksi konfigurasi tersebut tidak hanya memerlukan
berpikir konvergen dan divergen saja, tetapi juga motivasi, karakteristik
pribadi yang sesuai (misalnya keterbukaan terhadap pembaruan unsur-unsur
sosial, ketrampilan komunikasi). Proses ini disertai perasaan atau emosi yang
dapat menunjang atau menghambat.
B.Teori-Teori
proses kreatif
B1. Teori Wallas, yang dikemukakan pada
tahun 1926 dalam bukunya “The Art of Thought” (Piirto, 1992) yang menyatakan
bahwa proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu (1) persiapan, (2) inkubasi,
(3) iluminasi, dan (4) verifikasi.
(1)
Pada tahap pertama,
seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir,
mencari jawaban, bertanya kepada orang lain, dan sebagainya.
(2)
Pada tahap kedua,
kegiatan mencari dan menghimpun data/informasi tidak dilanjutkan. Tahap
inkubasi adalah tahap di mana individu seakan – akan melepaskan diri untuk
sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan
masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam pra – sadar.
Sebagaimana terlihat dari analisis biografi maupun dari laporan tokoh seniman
dan ilmuwan, tahap ini penting artinya dalam proses timbulnya inspirasi yang
merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru berasal dari daerah
pra – sadar. Sebagaimana terlihat dari analisis biografi maupun dari laporan
tokoh seniman dan ilmuwan, tahap ini penting artinya dalam proses timbulnya
inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru
berasal dari daerah pra – sadar atau timbul dalam keadaan ketidaksadaran penuh.
(3)
Tahap ilumunasi adalah
tahap timbulnya “insight” atau “Aha – Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau
gangguan baru, beserta proses – proses psikologi yang mengawali dan mengikuti
munculnya inspirasi atau gagasan baru.
(4)
Tahap verifikasi atau
evaluasi adalah tahap di mana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji
terhadap realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Dengan
perkataan lain, proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti oleh proses
konvergensi (pemikiran kritis).
B2.Teori tentang
belahan otak kanan dan otak kiri
Otak adalah
bagian paling vital dari tubuh manusia. Walaupun beratnya hanya sekitar dua
persen dari bobot tubuh, namun di dalamnya terdapat puluhan ribu syaraf dan
jutaan sel yang menjadi pusat kontrol utama tubuh kita.
Secara motorik,
otak bagian kiri berfungsi mengendalikan tubuh sebelah kanan, sementara otak
kanan mengendalikan belahan kiri. Dua bagian otak tersebut juga memiliki tugas
masing-masing: Otak kiri umumnya berfungsi untuk kemampuan bicara, rasio, akademis
dan keteraturan (bersifat analistis). Sementara otak kanan lebih mengarah pada
kemampuan visual, intuisi, dan seni (bersifat kreatif).
Perbedaan teori
fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960. Seorang
peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2
hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang
berbeda. Atas jasanya ini beliau mendapat hadiah Nobel pada tahun 1981. Selain
itu dia juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri
cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya.
|
Belahan Otak Kiri
|
Belahan Otak Kanan
|
|
Intelek
Konvergen
Intelektual
Rasional
Verbal
Horizontal
Konkret
Realistis
Diarahkan
Diferensial
Sekunsial
Historikal
Analitis
Eksplisit
Objektif
Suksesif
|
Intuisi
Divergen
Emosional
Metaforik, intuitif
Nonverbal
Vertikal
Abstrak
Impulsif
Bebas
Eksistensial
Multipel
Tanpa batas waktu
Sintesis, holitik
Implisit
Subjektif
Simultan
|
C.Belajar
Kreatif
C1.Pengertian
belajar kreatif
Belajar kreatif
adalah belajar yang menstimulasi untuk mengembangkan gagasannya dengan
memanfaatkan sumber belajar yang ada.“menjadi peka atausadar akan masalah,
kekuarangan-kekurangan, kesenjangan dalam pengetahuan, unsur-unsur yang tidak
ada, ketidak harmonisan dan sebagainya. Mengumpulkam informasi yang ada,
membataskan kesukaran, atau menunjukkan (mengidentifikasi) unsur yang tidak
ada, mencari jawaban, membuat hipotesis, mengubah dan mengujinya,
menyempurnakan dan akhirmnya mengkomunikasikan hasil-hasilnya”.
C2.Liputan
Proses Belajar Kreatif
Proses Belajar
Kreatif adalah keterlibatan dengan sesuatu yang berarti, rasa ingin tahu dan
mengetahui dalam kekaguman, ketidak lengkapan, kekacauan, kerumitan,
ketidakselarasan, ketidakteraturan dan sebagainya. Kesederhanaan dari struktur
atau mendiagnosis suatu kesulitan dengan mensintesiskan informasi yang telah
diketahui, membentuk kombinasi dan mendivergensi dengan menciptakan
alternatif-alternatif baru, kemungkinan-kemungkinan baru, dan sebagainya.
Mempertimbangkan, menilai, memeriksa, dan menguji kemungkinan-kemungkinan baru,
menyisihkan, memecahkan yang tidak berhasil, salah dan kurang baik, memilih
pemecahan yang paling baik dan membuatnya menarik atau menyenangkan secara
estesis, mengkonunikasi hasi-hasilnya kepada orang lain.
C3.Mengapa
belajar kreatif itu penting ?
(1)
Belajar kreatif
membantu seseorang menjadi berhasil . Belajar kreatif adalah aspek penting agar
lebih mampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
(2)
Belajar kreatif
menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak
mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
(3)
Belajar kreatif dapat
menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalaman kreatif
yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari
bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan
pribadi kita.
(4)
Belajar kreatif dapat
menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
Daftar Pustaka
A.M Heru Basuki Psikologi Umum Buku 1
Tornace dan Myres dikutip
oleh Triffinger (1980) dalam Semiawan dkk (1987:34)
Prof Dr. S.C.
Utami Munandar Kreativitas &
Keberbakatan, Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif & Bakat.(Hal. 58 –
59)
Prof Dr.S.C
Utami Munandar Kreativitas &
Keberbakatan Strategi Mewujudkan Potendi Kreatif & Bakat. Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama. (Hal. 59 – 60)